Kamis, 10 Oktober 2013

Analisis Ekonomi Struktur Keuangan

Analisis Ekonomi Struktur Keuangan
(Risanda Alirastra Budiantoro – 12/330600/EK/18790 – Ilmu Ekonomi)

Sebuah perekonomian yang sehat memerlukan sistem keuangan yang berfungsi menyalurkan dana dari penabung ke orang yang bisa menggunakan dana tersebut dengan produktif. Sistem keuangan bersifat kompleks dalam hal struktur dan fungsinya di seluruh dunia. Sistem keuangan mencakup berbagai jenis bank, perushaan, asuransi, reksadana, pasar modal, dan sebagainya. Jika mengamati lebih lanjut mengenai struktur keuangan di dunia, akan ditemukan 8 fakta dasar untuk menjelaskan bagaimana system keuangan bekerja, antara lain :
  1. Saham Bukan merupakan sumber pendanaan eksternal yang paling penting untuk usaha.
Saham merupakan sumber pendanaan yang kurang penting bagi perusahaan, karena hanya sebagian kecil saham tersebut menambah kapital bagi perusahaan. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai  perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
  1. Penerbitan surat utang yang dapat dipasarkan dan sekuritas saham bukan merupakan cara utama di mana bisnis mendanai operasi mereka
Obligasi jauh lebih penting dari pada saham, walaupun kombinasi saham dan obligasi yang akan membentuk total share dari sekuritas, masih kurang dari setengah dana eksternal yang dibutuhkan perusahaan.
  1. Pendanaan tidak langsung (Indirect finance)  lebih penting dari pada pendanaan langsung  (direct finance)
·        Pembiayaan Langsung Pemberian kredit/pembiayaan langsung dilakukan oleh pemilik dana (unit surplus) ke peminjam (unit defisit) tanpa melibatkan lembaga intermediasi keuangan, sehingga ada penyerahan bukti hutang, seperti obligasi, saham atau promes kepada unit surplus. Bukti hutang atau surat berharga ini merupakan sekuritas primer
·        Pembiayaan Tidak Langsung Proses pemindahan dana pinjaman dari unit surplus ke unit defisit melalui lembaga intermediasi keuangan seperti bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, pembiayaan sekuritas dan reksadana. Penggunaan lembaga intermediasi penting dalam perekonomian karena dapat mengatasi kelemahan yang ada dalam pembiayaan langsung.
  1. Perantara keuangan, khusunya bank, merupakan sumber pendanaan eksternal paling penting yang digunakan untuk mendanai berbagai usaha
Lebih dari 70%  sumber utama pendanaan eksternal yang didapatkan perusahaan berasal dari pinjaman bank.
  1. Sistem keuangan (financial system) adalah salah satu  sektor ekonomi dengan regulasi yang paling ketat.
Sistem keuangan yang diregulasi ketat dari pemerintahan maka akan meningkatkan keamaanan, kestabilan dari perekonomian
  1. Hanya perusahaan besar dan mapan yang mempunyai akses mudah ke pasar sekuritas untuk mendanai kegiatannya
Individu dan usaha kecil akan susah untuk mendapatkan dana dengan cara menerbitkan surat berharga karena investor kurang mempercayai perusahaan yang kecil dan kurang memiliki pengalaman
  1. Jaminan (collateral) adalah ciri yang paling umum dari kontrak utang
Merupakan hak milik yang dijaminkan kepada pemberi pinjaman untuk jaminan pembayaran apabila peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman. Utang yang dijamin disebut Secured Debt
  1. Kontrak utang merupakan dokumen resmi yang rumit dan memberikan banyak batasan atas perilaku peminjam
Kontrak utang merupakan dokumen resmi yang rumit dan memberikan banyak batasan atas perilaku peminjam dengan aturan aturan yang tertelis disebut Restrictived covennants

I. Biaya Transaksi
Biaya transaksi merupakan masalah besar dalam pasar keuangan, salah satu contoh berikut dapat memperjelas hal tersebut. Biaya transaksi menahan banyak penabung dan peminjam kecil dari keterlibatan langsung dengan pasar keuangan . Perantara keuangan mengambil keuntungan dari skala ekonomis dan lebih mampu untuk mengembangkan keahlian untuk menurunkan biaya transaksi, dengan demikian memungkinkan penabung dan peminjam untuk mendapatkan keuntungan dari keberadaan pasar keuangan.
·        Skala Ekonomis
Satu solusi untuk persoalan biaya transaksi yang tinggi adalah menggabungkan dana dari banyak investor secara bersama sehingga dapat mengambil manfaat dari skala ekonomis (economies of scale), yaitu penurunan biaya transaksi per dollar investasi sejalan dengan ukuran (skala) transaksi. Skala ekonomi ada karena total biaya melkuakan transaksi dalam pasar keuangan hanya meningkatkan sdikit sejalan dengan peningkatan ukuran transaksi.
·        Keahlian
Perantara keuangan juga dapat mengembangkan keahlian yang lebih baik untuk menurunkan biaya transaksi. Keahlian mereka  dalam tekhnologi computer memungkinkan mereka untuk menawarkan layanan nasabah. Hasil penting dari biaya transaksi perantara keungan yang rendah adalah kemampuannya untuk menyediakan nasabahnya dengan jasa likuiditas, yaiut jasa yang memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi.

II. Lemons Problem : Bagaimana Adverse Selection Mempengaruhi Struktur Ekonomi
Sumber utama dari instabilitas sistem keuangan adalah adanya informasi yang asimetri yaitu suatu situasi dimana satu pihak yang terlibat dalam kesepakatan keuangan tidak memiliki informasi yang akurat dibanding pihak lain (Nasution, 2003). Berdasarkan teorinya, ketidaksamaan informasi ini akan menimbulkan apa yang disebut sebagai tindakan moral hazard dan adverse selection. Moral hazard merupakan tindakan penyelewenangan amanah atau tanggung jawab karena adanya kesempatan untuk melakukan hal tersebut tanpa diketahui oleh pihak lain (Miskhin, 2001). Misalnya saja, seseorang yang memiliki premi asuransi dapat berbuat curang untuk melakukan tindakan yang dapat mencairkan polis asuransinya. Sedangkan adverse selection adalah adanya bias dalam pemilihan untuk mendapatkan pilihan yang tepat (Miskhin, 2001). Masih terkait praktek asuransi, perusahaan asuransi dapat saja salah memilih seseorang untuk menjadi kliennya karena adanya informasi yang disembunyikan oleh si calon klien. Seseorang yang sebenranya sakit parah dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan asuransi kesehatan dapat diterima menjadi klien karena informasi ini tidak diperoleh oleh perusahaan asuransi.
Sedangkan terkait dengan sistem keuangan, adalah bahwa ketidaksamaan informasi ini terjadi pada transaksi keuangan yang didukung oleh sistem lembaga keuangan ataupun pasar keuangan. Dengan demikian, adanya asimetri informasi yang terjadi baik di lembaga keuangan maupun pasar keuangan dapat membahayakan sistem keuangan. Instabilitas sistem keuangan dapat menimbulkan konsekuensi yang membahayakan yakni besarnya biaya fiskal yang harus dikeluarkan untuk menyelamatkan lembaga keuangan yang bermasalah dan penurunan PDB akibat krisis mata uang dan perbankan (Batunanggar, 2003). Hal ini pernah terjadi yaitu pada saat krisis moneter 1998. Krisis yang terjadi di sektor moneter akhirnya merembet dengan cepat ke sektor lain karena lemahnya sistem keuangan Indonesia. Akibatnya, biaya untuk memperbaiki kondisi keuangan tersebut menjadi lebih tinggi dibanding negara-negara lain.

III. Alat untuk membantu menyelesaikan masalah adverse selection
·        Produksi pribadi dan penjualan informasi
Menghilangkan informasi asimetris dengan memberikan rincian yang lengkap kepada orang yang menyediakan dana mengenai individu-individu atau perusahaan-perusahaan yang mencari pendanaan untuk aktivitas investasinya.
·        Regulasi pemerintah untik meningkatkan informasi
Meregulasi pasar sekuritas agar perusahaan-perusahaan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan secara jujur sehingga para investor mampu membedakan antara perusahaan yang baik dan yang buruk.
·        Perantara keuangan
Menjual informasi dan juga perantara penjualan saham perusahaan kepada investor.
·        Jaminan
Jaminan merupakan property yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman jika peminjam gagal membayar, hal ini juga mengurangi kerugian pemberi pinjaman jika terjadi gagal pembayaran.
·        Kekayaan bersih
Modal Ekuitas, selisih asset dengan kewajiban. Berfungsi sama dengan jaminan.

IV. Bagaimana Moral Hazard Memengaruhi Struktur Keuangan di Pasar Utang
            Kontrak utang mensyaratkan peminjam untuk membayar dalam jumlah yang tetap dan membiarkan mereka menyimpan keuntungan berapa pun di atas jumlah ini, peminjam mempunyai insentif untuk mengambil proyek-proyek investasi yang lebih berisiko daripada yang diinginkan pemberi pinjaman.
Alat untuk Membantu Menyelesaikan Moral Hazard dalam Kontrak Utang
1.    Kekayaan Bersih dan Jaminan
Salah satu cara untuk menjelaskan solusi bahwa kekayaan bersih yang tinggi dan jaminan memberikan masalah moral hazard adalah mengatakan bahwa kontrak utang merupakan Incentive-compatible, yaitu incentive yang menyelaraskan incentive peminjam dengan insentive pemberi pinjaman. Semakin besar kekayaan bersih peminjam dan jaminan yang dijaminkan, semakin besar insentive peminjam berprilaku dengan cara yang diharapkan dan diinginkan pemberi pinjaman, semakin kecil masalah moral hazard dalam kontrak utang, dan semakin mudah bagi perusahaan dan rumah tangga untuk meminjam
2.   Pemantauan dan Pelaksanaan Kontrak Restriktif
Kontrak restriktif ditujukan untuk mengurangi moral hazard dengan cara mengesampingkan parilaku yang tidak diinginkan atau dengan mendorong perilaku yang diinginkan.
3.    Perantaraan Keuangan
Perantara keuangan mempunyai kemampuan untuk menghindari masalah free-rider terutama selama mereka melakukan pinjaman individu. Pinjaman individu tidak diperdagangkan, sehingga tak seorangpun yang dapat menjadi free-rider pada pemantauan dan pelaksanaan kontrak restriktif. Dengan demikian, perantara yang melakukan pinjaman menerima keuntungan dari pemantauan dan pelaksanaan dan akan bekerja untuk mengurangi masalah moral hazard yang melekat dalam kontrak utang.

V. Faktor-faktor yang Menyebabkan Krisis Keuangan
            Untuk memahami terjadinya krisis perbankan dan  keuangan dan bagaimana krisis tersebut menyebabkan kontraksi terhadap kegiatan ekonomi, perlu diteliti faktor-faktor yang menyebabkannya. Ada lima kategori faktor yang dapat memicu krisis keuangan: Kenaikan suku bunga, Peningkatan ketidakpastian, pasar aset memengaruhi neraca, masalah-masalah dalam sektor perbankan, dan ketidakseimbangan fiskal pemerintah.
·        Kenaikan Suku Bunga
               Jika suku bunga pasar meningkat karena peningkatan permintaan kredit atau karena penurunan jumlah uang beredar, risiko kredit yang baik kurang berminat untuk meminjam sedangkan risiko kredit yang buruk masih berkeinginan untuk meminjam.. Karena adanya peningkatan dalam adverse selection yang dihasilkan, pemberi pinjaman tidak berkeinginan untuk member pinjaman. Penurunan pinjaman secara substansial akan mengakibatkan penurunan substansial pada investasi dan kegiatan ekonomi agregat.
·        Peningkatan Ketidakpastian
            Peningkatan ketidakpastian yang dramatis di pasar keuangan, kemunkinan akibat kegagalan lembaga keuangan dan non keuangan yang utama, resesi, atau jatuhnya pasar saham, menyebabkan pemberi pinjaman semakin sulit untuk memilh risiko-risiko kredit yang baik dari yang buruk. Ketidak mampuan untuk menyelesaikan masalah adverse selection dapat membuat pemberi pinjaman tidak berkeinginan untuk member pinjaman, sehingga pinjaman, investasi, dan kegiatan ekonomi agregat akan mengalami penurunan.
·        Dampak Pasar Aset terhadap Neraca
            Kondisi neraca perusahaan berimplikasi penting bagi kesulitan masalah informasi asimetris dalam sistim keuangan. Penurunan yang tajam pada pasar saham merupakan satu factor yang dapat menyebabkan terpuruknya neraca perusahaan, sehingga berakibat meningkatkan masalah adverse selection dan moral hazard di pasar keuangan dan menyulut krisis keuangan.
·        Permasalahan dalam Sektor Perbankan
            Kondisi neraca bank berdampak penting bagi pemberian pinjaman bank. Jika bank mengalami pemburukan neraca bank yang cukup tajam, bank akan mulai gagal, dan kekhawatiran menyebar dari satu bank ke banklain, menyebabkan bahakan bank-bank sehat kolaps. Penurunan pinjaman bank selama krisis keuangan menurunkan pasokan dana yang tersedia bagi peminjam, yang menyebabkan suku bunga tinggi. Hasil dari kegagalan bank berganda (bank panic) berupa peningkatan masalah adverse selection dan moral hazard di pasar kredit. Masalah-masalah ini menghasilkan penurunan yang bahkan lebih tajam dalam pemberian pinjaman untuk memfasilitasi investasi produktif dan dapat menyebabkan kontraksi yang lebih tajam dalam kegiatan ekonomi.
·        Ketidakseimbangan Fiskal Pemerintah
            Ketidakseimbangan fiskal pemerintah dapat menciptakan kekhawatiran gagal bayar dari utang pemeritah. Akibatnya pemerintah mungkin bermasalah untuk mendapatkan orang yang bersedia membeli obligasinya dan pemerintah dapat memaksa bank untuk membeli obligasi tersebut. Jika kemungkinan pemerintah gagal bayar utang maka neraca bank akan melemah dan dapat memicu krisis nilai tukar di mana nilai mata uang domestic akan turun dengan tajam karena investor menarik ungnya keluar dari Negara, sehuingga akan membawa destruksi neraca perusahaan dengan utang dalam jumlah besar yang didenominasi dalam mata uang asing. Dan dapat meningkatkan masalah-masalah adverse selection dan moral hazarad. Penurunan pinjaman, dan kontraksi kegiatan ekonomi.




Teori Pertumbuhan Ekonomi

Teori Pertumbuhan Ekonomi
(Risanda Alirastra Budiantoro – 12/330600/EK/18790 – Ilmu Ekonomi)

I. Ekonomi Pertumbuhan
Perhatian utama masyarakat dunia saat ini adalah tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat pertumbuhan nasional. Pemerintahan suatu negara baik itu negara kaya maupun negara miskin, yang menganut sistem ekonomi apapun juga menomorsatukan pertumbuhan ekonomi (economic growth). Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi saling mempengaruhi satu sama lain. Disatu sisi, pembangunan  ekonomi akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi akan memperlancar proses pembangunan ekonomi. Oleh karena itu masyarakat menganggap pertumbuhan sama dengan pembangunan ekonomi.
Menurut M. Suparko dan Maria R. Suparko ada beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yaitu :
A.     Akumulasi Modal
Dalam pembangunan ekonomi, modal memegang peranan yang penting. Akumulasi modal ini akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Akumulasi modal (capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari. Pengadaan pabrik baru, mesin-mesin, peralatan, dan bahan baku meningkatkan stock modal (capital stock) fisik suatu negara (yakni, total nilai riil “neto” atas seluruh barang modal produktif secara fisik) dan hal itu jelas memungkinkan terjadinya peningkatan output di masa-masa mendatang.
B.     Pertumbuhan Penduduk (sumber daya manusia)
Pertumbuhan penduduk secara tradisional dianggap salah satu faktor positif yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.
Namun, positif atau negatifnya dampak dari pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomitergantung pada kemampuan system perekonomian suatu Negara dalam penyerap secara optimal  untuk mempekerjakan tambahan tenaga kerja tersebut.
C.     Sumberdaya alam yang tersedia
Sumberdaya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumberdaya alam yang tersedia merupakan “batas maksimum” bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika sumberdaya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan secara penuh.
D.     Kemajuan teknologi tepat guna
Kemajuan teknologi merupakan solusi untuk memperbaiki kinerja untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara tradisional. Kemajuan teknologi  dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu
1.      Kemajuan teknologi yang bersifat netral
Hal tersebut dapat terjadi apabila jumlah output yang dihasilkan akan lebih banyak dari pada jumlah dan kombinasi input faktor produksi yang sama
2.      Hemat tenaga kerja
Kemajuan teknologi dapat meingkatkan kualitas dari tenaga kerja apabila penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan keterampilan tenaga kerja
3.      Hemat modal
Kemajuan teknologi yang meningkatkan modal terjadi jika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara produktif.[1]

II. Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi Modern Menurut Kuznets
Pada awalnya Kuznets adalah seorang ahli statistik, yang banyak berkecimpung dengan pengumpulan dan analisis data. Termasuk pula didalamnya data ekonomi. Karena banyak mengumpulkan data-data ekonomi, ia menjadi tertarik dengan bidang ekonomi. Berkat kepintarannya Kuznets berasil menggabungkan ilmu statistika dan ilmu matematika dengan ilmu ekonomi menjadi suatu kesatuan yang padu. Sebagai seorang ahli ekonomi terkemuka di Amerika Serikat yang pernah memperoleh hadiah Nobel dinyatakan bahwa, proses pertumbuhan ekonomi tersebut dinamakannya sebagai Modern Economic Growth.
Pertumbuhan ekonomi adalah kemampuan jangka panjang untuk menyediakan berbagai jenis barang ekonomi yang terus meningkat kepada masyarakat.kemampuan ini tumbuh atas dasar kemajuan teknologi, institusional dan ideologis yang diperlukannya. Ada 3 komponen pokok penting, yaitu :
1.      Kenaikan output nasional secara terus menerus
Peningkatan output yang terus menerus dana terpelihara merupakan manivestasi pertumbuhan ekonomi. Kemampuan untuk menyediakan berbagai macam barang adalah tanda kematangan ekonomi.
2.      Kemajuan teknologi sebagai prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi
Teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajat kemampuan pertumbuhan dalam menyediakan aneka macam barang kepada penduduk.
3.      Penyesuaian kelembagaan, sikap dan ideologi.
Penggunaan teknologi secara luas dan efesien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan ideology sehingga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dapat di mamfaatkan secara tepat. Pembaharuan teknologi haruslah dibarengi dengan pembaharuan sosial.

Selain itu ada, menurut kusnetz ada 6 ciri pertumbuhan ekonomi modern
         Dua variable ekonomi agreratif :
1.  Tingginya tingkat pertumbuhan output per kapita dan penduduk
2. Tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara  keseluruhan, terutama produktivitas tenaga kerja.
Dua variable transformasi structural :
3.  Tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi
4.  Tingginya tingkat transformasi sosial dan ideology
 Dua faktor yang mempengaruhi meluasnya pertumbuhan ekonomi internasional :
5. Kecenderungan negara-negara maju secara ekonomis untuk  menjangkau seluruh dunia untuk mendapatkan pasar dan bahan baku.
6.  Pertumbuhan ekonomi ini hanya terbatas pada sepertiga  populasi dunia.

III. Pengalaman Negara Pembangunan dalam Era Globalisasi
               Globalisasi yang dicirikan oleh semakin intensifnya proses interaksi antar negara adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh setiap bangsa di dunia ini Batas-batas geografis antar negara semakin berkurang signifikansinya yang mengakibatkan pergeseran nilai-nilai di bidang politik, sosial budaya dan pertahananan keamanan. Sementara itu, di bidang ekonomi persaingan yang terjadi berlangsung semakin ketat yang semakin menyulitkan posisi negara-negara berkembang dan miskin (Stiglitz, 2006). Kondisi-kondisi tersebut mendorong negara-negara untuk melakukan kerjasama guna memecahkan berbagai permasalahan bersama.
               Proses globalisasi yang terjadi di dunia, di Indonesia pun sedang terjadi proses perubahan yang besar yang direncanakan. Untuk kepentingan pembahasan ini ada dua pola perubahan yang sedang terjadi, yang meskipun berbeda (distinct) keduanya berkaitan dan bahkan dapat dikatakan yang satu mencerminkan yang lainnya, atau keduanya adalah sisi-sisi dari fenomena yang sama.
               Pertama, proses transformasi struktural dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dan dari ekonomi agraris ke ekonomi industri. Proses perubahan ini atau proses modernisasi ini, merupakan wujud nyata dari pembangunan ekonomi yang telah menampakkan kemajuan nyata karena bersamaan dengan proses itu telah terjadi peningkatan kesejahteraaan yang dihasilkan oleh peningkatan produktivitas  perekonomian secara keseluruhan.
               Kedua, proses transformasi dari sistem ekonomi yang didominasi oleh pemerintah ke arah sistem ekonomi pasar, yang masyarakatnya makin berperan sebagai pelaku utama pembangunan. Proses perubahan ini menghasilkan efisiensi perekonomian nasional, meningkatkan daya saing dan dengan demikian mendorong peningkatan produksi dan pendapatan masyarakat. Kedua proses internal tersebut didorong dan dipengaruhi oleh proses eksternal tadi, yaitu proses globalisasi perekonomian dunia, dengan dua ciri dan faktor pedorongnya yaitu perdagangan bebas dan kemajuan teknologi
               Negara - negara industri baru seperti Korea dan Taiwan juga memiliki lembaga-lembaga perencanaan yang berperan besar dalam mengarahkan gerak pembangunan ekonomi sehingga menghasilkan kemajuan seperti yang dicapai sekarang. Bank Dunia bahkan menunukkan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi di negara -negara Asia Timur (termasuk Indonesia) antaralain disebabkan oleh adanya intervensi yang tepat dari pemerintahnya.
               Kegagalan perencanaan biasanya terjadi bukan karena adanya perencanaan itu  sendiri, melainkan dapat bersumber pada berbagai sebab lainnya. Pertama, penyusunan perencanaan tidak tepat, mungkin karena informasinya kurang lengkap atau metodologinya belum dikuasai, atau perencanaannya sejak semula memang tidak realistis sehingga tidak mungkin pernah bisa terlaksana. Dalam hal terakhir ini, biasanya pengaruh politis terlalu besar sehingga pertimbangan -pertimbangan teknis perencanaan diabaikan. Kedua, perencanaannya mungkin baik, tetapi pelaksanaannya tidak seperti seharusnya. Dengan demikian, kegagalan yang terjadi adalah karena tidak berkaitnya perencanaan dengan pelaksanaannya. Penyebabnya, dapat karena aparat pelaksana yang tidak siap atau tidak kompeten, tetapi dapat juga karena rakyat tidak punya kesempatan berpartisipasi sehingga tidak mendukungnnya. Ketiga, perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar negara berkembang. Misalnya, orientasi semata- mata pada pertumbuhan yang menyebabkan makin melebarnya kesenjangan. Dengan demikian, yang keliru bukan semata- mata perencanaannya, tetapi falsafah atau konsep di balik perencanaan itu.  Keempat, karena perencanaan diartikan sebagai pengaturan total kehidupan manusia sampai yang paling kecil sekalipun. Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan berkembangnya prakarsa individu dan pengembangan kapasitas serta potensi masyarakat secara penuh. Sistem ini bertentangan dengan hukum pena waran dan permintaan karena pemerintah mengatur semuanya. Perencanaan seperti inilah yang disebut sebagai sistem perencanaan terpusat (centrally planned system )
               Sistem perencanaan yang berhasil diterapkan di berbagai negara yang telah terbukti kemajuannya, seperti Jepang dan negara - negara industri baru, adalah sistem perencanaan yang mendorong berkembangnya mekanisme pasar dan peran serta masyarakat. Dalam sistem itu perencanaan dilakukan dengan menentukan sasaran- sasaran secara garis besar, baik di bidang sosial maupun ekonomi, dan pelaku  utamanya adalah masyarakat atau dengan kata lain usaha swasta. Jepang, merupakan satu- satunya negara industri yang memiliki lembaga perencanaan, yaitu  Economic Planning Agency, yang dipimpin oleh seorang menteri (meskipun sebut annya adalah Direktur Jenderal). Lembaga ini berperan mengarahkan perekonomian Jepang sejak awal, sejak namanya masih Economic Stabilization Board yang didirikan pada tahun 1946. Lembaga inilah yang membuat rencana komprehensif untuk pemulihan kembali ( recovery) Jepang[2]


[1] Rafki Rasyid, Sejarah Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Kontemporer: Pelajaran dan Kontroversi, Diakses dari : http://rafki-rs.blogspot.com/2008/01/sejarah-pertumbuhan-ekonomi-dan_01.html, pada tanggal 3 Oktober 2013, pukul 07.20
[2] Ginandjar Kartasasmita , Kebijaksanaan Perencanaan Pembangunan Memasuki Abad ke-21, Diakses dari http://www.ginandjar.com/public/06KebijaksanaanPerencanaanPembangunan.pdf, pada tanggal 3 oktober 2013, pukul 22.30

Senin, 23 September 2013

Konsep Tingkat Suku Bunga

Konsep Tingkat Suku Bunga 
(Risanda Alirastra Budiantoro – 12/330600/EK/18790 – Ilmu Ekonomi )

Sampai saat ini kita telah membicarakan mengenai bekerjanya pasar uang serta teori mengenai permintaan uang, untuk mengkaji lebih dalam menganai aspek dari salah satu dimensi pasar uang adalah tingkat bunga atau interest rate. Tingkat suku bunga memegang peranan penting dalam setiap perekonomian yang menggunakan uang untuk penyimpan kekayaan (store of value). Sebagai contoh Rp 1000 hari ini = Rp 1100 tahun depan
         Harga relatif uang  à (t+1)/t = 1100/1000 = 1.1
         Simple interest rateà ((t+1)-t)/t)
         1100-1000/1000 = 0.1 atau 10%
Dengan i = 0.10
         Dalam satu tahun Rp1000×(1+0.10) = 1100
         Dalam dua tahun  Rp1000×(1+0.10)×(1+0.10) atau Rp1000×(1+0.10)2  = 1210
         Dalam tiga tahun  Rp1000×(1+0.10)3 = 1330
Jadi dalam n tahun : Rp1000×(1+0.10)n

Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas. Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi keputusan seseorang atau rumah tangga dalam mengkonsumsi, membeli rumah, membeli obligasi, atau menaruhnya dalam rekening tabungan. Suku bunga juga mempengaruhi keputusan ekonomis bagi pengusaha atau pimpinan perusahaan apakah akan melakukan investasi pada proyek baru atau perluasan kapasitas. Menurut Edmister mengemukakan tiga istilah yang berkaitan dengan suku bunga yaitu :
a.       State rate adalah tingkat bunga satu periode dikalikan jumlah pokok pinjaman untuk menghitung beban bunga
b.      Annual percentage rate adalah tingkat bunga disetahunkan dengan menyesuaikan stated rate untuk jumlah periode pertahun dan jumlah pokok yang benar-benar dipinjam
c.       Yield adalah tingkat bunga yang ekuivalen denga satu kontrak keuangan yang memenuhi tiga syarat : jumlah seluruhnya yang benar-benar dipinjam, pada awal tahun, kemudian dibayar kembali pada akhir tahun beserta bunga.[1]

Instrument pasar utang di bagi menjadi empat jenis, yaitu pinjaman sederhana, pinjaman dengan pembayaran tetap, obligasi kupon, dan obligasi tanpa kupon atau obligasi diskonto.Keempat instrument pasar utang ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat bunga.Tingkat bunga pasar utang berbeda dengan tingkat bunga bank sentral karena tingkat bunga bank sentral merupakan salah satu instrument kebijakan moneter, tetapi tingkat bunga bank sentral terintegrasi dengan tingkat bunga pasar utang.
a.       Pinjaman Sederhana
Pinjaman sederhana ( simple loan ) adalah sejumlah pinjaman debitur yang dibayar kembali pada waktu jatuh tempo ditambah bunga pinjaman. Dari pinjaman sederhana tingkat bunga dihitung sebagai berikut :
R = (TP – LV) / LV x 100 %
Dimana :
R    =  tingkat bunga nominal
TP  =  total pembayaran
LV  =  nilai pinjaman
b.   Pinjaman Pembayaran Tetap
Pinjaman pembayaran tetap ( fixed payment loan ) adalah sejumlah pinjaman debitur yang dibayar setiap periode di tambah bunga pinjaman dengan jumlah tetap, biasanya per bulan. Masalah dalam pinjaman pembayaran tetap adalah menentukan pembayaran tetap awal tahun. Formula pinjaman pembayaran tetap adalah :
LV = FP/(1+R) + FP/(1+R)2 + … + FP/(1+R)T
LV  = FP  x (1-1/(1+R)T)/R
Di mana:
FP   = jumlah pembayaran tetap
T     = periode waktu jatuh tempo
C.  Obligasi Kupon
Obligasi kupon ( cupon bond ) artinya penerbit atau penjual obligasi membayar bunga tetap (coupon payment ) kepada pemegang obligasi setiap tahun dan nilai nominal pada waktu jatuh tempo. Masalah umum pada obligasi kupon, dimana system pembayaran hamper sama dengan pinjaman pembayaran tetap, yaitu :
P = C/(1+R) + C/(1+R)2 + … + C/(1+R)n + F/(1+R)T
P = C x (1-1/(1+R)T)/R + F/(1+R)T
Dimana :
P = harga obligasi kupon
C = kupon obligasi
F = nilai nominal obligasi
d.   Obligasi Tanpa kupon atau Obligasi Diskonto
Obligasi diskonto ( discount bond atau zero-coupond bond ) adalah obligasi tanpa kupon yang dibeli dibawah harga nominal dan dibayar kembali besar nominal sesudah jatuh tempo. Metode perhitungan tingkat bunga dari obligasi diskonto atau tanpa kupon mirip dengan perhitungan pinjaman sederhana. Tingkat suku bunga dan harga obligasi memiliki hubungan negative. Jika tingkat bunga naik maka harga obligasi turun, sebaliknya jika tingkat bunga turun maka harga obligasi naik yaitu :
R = (F – P) / P

Tingkat suku bunga nominal adalah tingkat suku bunga yang tidak memperhitungkan nilai inflasi. Tingkat suku bunga riil adalah tingkat suku bunga yang memperhitungkan inflasi, sehingga perhitungan tingkat suku bunga tersebut lebih mencerminkan cost of borrowing yang sebenarnya (Mishkin, 2007). ingkat suku bunga riil yang memperhitungkan ekspektasi perubahan tingkat harga disebut sebagai ex ante real interest rate. Sedangkan tingkat suku bunga riil yang memperhitungkan perubahan tingkat harga aktual disebut sebagai ex post real interest rate. Tingkat suku bunga riil , tingkat suku bunga dan inflasi dihubungkan oleh persamaan fisher (fisher equation) sebagai berikut:
         Dimana :
ir  = suku bunga nominal
*      suku bunga riil
saat suku bunga riil rendah, insentif untuk meminjam akan meningkat sedangkan insentif untuk memberi pinjaman akan semakin turun ataupun sebaliknya, apabila tingkat suku bunga riil tinggi, maka tingkat meminjam akan semakin cenderung menurun dan pemberi peinjaman akan semankin naik.




[1] Waro Muhammad, Tingkat Dan Struktur Suku Bunga,  Diakses dari : http://waromuhammad.blogspot.com/2012/02/tingkat-dan-struktur-suku-bunga.html pada tanggal 21 september 2013, pukul 17.00

Selasa, 17 September 2013

Paradigma dan Indikator Pembangunan Ekonomi Indonesia

Paradigma dan Indikator Pembangunan Ekonomi Indonesia
(Risanda Alirastra Budiantoro – 12/330600/EK/18790 – Ilmu Ekonomi )

1. Paradigma Pembangunan Ekonomi Indonesia (Tradisional à Modern)
Kita sering berbicara tentang pembangunan, namun mungkin hanya sedikit yang kita ketahui tentang pembangunan itu sendiri. Pembangunan telah menjadi obsesi banyak negara, namun dalam faktanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang terjadi selama proses pembangunan, seperti masalah pengangguran, kemiskinan, urbanisasi yang tinggi sehingga menciptakan masyarakat miskin di kota dan kesenjangan ekonomi.
Paradigma tradisional memiliki pandangan tentang pembangunan pada Indonesia sebagai negara yang berkembang sehingga diidentikan dengan upaya untuk meningkatkan pendapatan per-kapita atau dengan strategi pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi masalah-masalah pembangunan yang berdasarkan pada pancasila dan pembukaan UUD 1945. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu bentuk manifestasi keberhasilan didalam meningkatkan tingkat GNP suatu negara pada periode tertentu melalui sektor sektor yang berpeluang. Pemikiran yang demikian akan memunculkan teori pertumbuhan dan pembangunan sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi, sebagai contoh Program MP3EI, dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan perekonomian Indonesia dapat menjadi lebih terarah sesuai dengan rencana dan tepat sasaran untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimum sehingga terciptanya masyarakat yang happiness dengan indikator tingkat kesejahteraan.
Indikator perubahan pembangunan terjadi akibat dari perubahan pola pikir dari para ekonom dan sebagai tuntutan perubahan zaman. Perubahan paradigma pembangunan beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpedoman pada tingkat GNP sebagai sasaran pembangunan tetapi lebih memusatkan perhatian pada kualitas pembangunan, pada saat inilah mulai mengkaji ulang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dari rencana pembangunan. Pandangan dari ekonom mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan masalah pembangunan negara berkembang dikenal dengan istilah ekonomi pembangunan yang masuk dalam analisis makro ekonomi. Para ekonom menyadari pembangunan ekonomi tidak terlepas dari kinerja pemerintah untuk selalu melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan menerapkan kebijakan secara berkelanjutan sehingga tingkat kualitas pembangunannya akan selalu terjaga dengan baik..

2. Indikator keberhasilan Pembangunan Ekonomi
Mengukur tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara diperlukan tolak ukur dengan indikator sesuai dengan definisi dari ekonomi pembangunan itu sendiri, agar pembangunan ekonomi dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Indikatornya adalah tingkat pendapatan harus seimbang dengan pengeluaran dan harus seimbang pula dengan tingkat produksi, indikator tersebut diharapkan diharapkan mampu mewakili atau merupakan model dari semua aspek atas pembangunan ekonomi.
2.1. Indikator Ekonomi
      2.1.1 GNP ( Gross National Product) atau Produk Nasional Bruto
            Indicator pertama yang umum digunakan diberbagai Negara untuk menilai perkembangan ekonomi adalah perubahan pendapatan nasional riil dalam jangka waktu panjang. Pendapatan nasional riil menunjukkan output secara keseluruhan dari barang-barang jadi dan jasa suatu negara. Negara dikatakan tumbuh ekonominya jika pendapatan nasional riil-nya naik dari periode sebelumnya. Tingkat petumbuhan ekonomi dihitung dari pertambahan pendapatan nasional riil yaitu Produk Nasional Bruto riil yang berlaku dari tahun ke tahun.
2.1.2 Kesejahteraan Penduduk
Indikator ketiga yang juga digunakan untuk mengukur perkembangan ekonomi adalah nilai kesejahteraan penduduknya. Terjadi peningkatan kesejahteraan material yang terus-menerus dan berjangka panjang. Hal ini dapat ditinjau dari kelancaran distribusi barang dan jasa. Distribusi yang lancar menunjukkan distribusi pendapatan per kapita pada seluruh wilayah Negara. Peningkatan kesejateraan terjadi secara merata pada seluruh kawasan. Tingkat kesejahteraan dapat pula diukur dengan pendapatan riil per kapita.
2.1.3 Tenaga Kerja Dan Pengangguran.
Indikator keempat yang dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan ekonomi adalah jumlah tenaga kerja dan tingkat pengangguran.  Pengangguran merupakan selisih antara angkatan kerja dengan penggunaan tenaga kerja yang sebenarnya. Angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu.[1]

2.2 Indikator Non Ekonomi ( Sosial )
            2.2.1  Indeks Kualitas Hidup
Indeks kualitas hidup (IKH) atau Physical Qualty of life Index (PQLI) digunakan untuk mengukur kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Indeks makroekonomi tidak dapat memberikan gambaran tentang kesejahteraan masyarakat dalam mengukur keberhasilan ekonomi. Misalnya, pendapatan nasional sebuah bangsa dapat tumbuh terus, tetapi tanpa diikuti oleh peningkatan kesejahteraan sosial.
            2.2.2 Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
The United Nations Development Program (UNDP) telah membuat indikator pembangunan yang lain, sebagai tambahan untuk beberapa indikator yang telah ada. Ide dasar yang melandasi dibuatnya indeks ini adalah pentingnya memperhatikan kualitas sumber daya manusia. Menurut UNDP, pembangunan hendaknya ditujukan kepada pengembangan sumberdaya manusia. Dalam pemahaman ini, pembangunan dapat diartikan sebagai sebuah proses yang bertujuan m ngembangkan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan oleh manusia. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas sumberdaya manusia akan diikuti oleh terbukanya berbagai pilihan dan peluang menentukan jalan hidup manusia secara bebas. Pengembangan manusia berkaitan erat dengan peningkatan kapabilitas manusia yang dapat dirangkum dalam peningkatan knowledge, attitude dan skills, disamping derajat kesehatan seluruh anggota keluarga dan lingkungannya.[2]


[1] Diakses dari : http://ardra.biz/ekonomi/ekonomi-makro/indikator-pertumbuhan-ekonomi-suatu-negara, pada tanggal 16 September 2013, pukul 20.30
[2] Parsiyo, S.IP, MM, Indikator Keberhasilan Pembangunan, diakses dari : http://ppmkp.bppsdmp.deptan.go.id/index.php/artikel/kepemimpinan-dan-manajemen/75-indikator-keberhasilan-pembangunan  pada tanggal 16 September 2013, pukul 20.30

Kamis, 12 September 2013

Ekonomi Pembangunan dan Peranan MP3EI di Indonesia

Ekonomi Pembangunan dan Peranan MP3EI di Indonesia
(Risanda Alirastra Budiantoro - 12/330600/EK/18790 – Ilmu Ekonomi)

I. Hakekat Ekonomi Pembangunan
Ekonomi pembangunan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan diharapkan hasilnya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan dengan asumsi ceteris paribus. Sebagai salah satu kajian dari ilmu ekonomi yang membahas mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan sosial dan ekonomi, sehingga pemahaman terhadap ekonomi pembangunan akan mempengaruhi seseorang didalam pengambilan keputusan yang lebih baik untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Syarat untuk mencapai tingkat kesejahteraan bagaimana setiap individu dapat merasakan happiness dengan tetap menjaga antara bekerja, menghasilkan keuntungan dan menabung harus dilaksanakan sesuai dengan proporsinya, jika diaplikasikan dalam lingkup perekonomian antara produksi, pendapatan dan pengeluaran  harus seimbang.
Permasalahan dalam perekonomian Bangsa Indonesia adalah kesenjangan, tingkat produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat konsumsi masyarakat, atau antara daerah yang kaya dan tertinggal memiliki tingkat kuntitas dan kualitas konsumsi yang berbeda, hal ini harus diatasi secara tepat dan tepat melalui kebijakan pemerintah. Pemerintah Indonesia harus mampu mengatasi permasalahan tersebut agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat khusunya dalam aspek ekonomi dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki yang ada di seluruh daerah secara optimal (bukan eksplorasi berlebihan), sehingga akan meciptakan pembangunan daerah yang merata menunjukan adanya asas keadilan yang diaplikasikan pemerintah melalui proses yang berkesinambungan untuk mecapai tujuan yang diharapkan yaitu kesejahteraan rakyat sesuai yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, memiliki sifat turunan dari Tuhan sebagai contoh adalah kasih dan sayang, setiap manusia harus mengaplikasikan kasih dan sayang secara adil kepada siapapun. Jika dianalogikan kasih adalah memproduksi (supply) sedangkan sayang adalah mengkonsumsi (demand), untuk menciptakan tingkat keadilan kuantitas supply dan demand harus seimbang berdasarkan musyawarah dan mufakat antar pihak yang berkepentingan Selain itu, setiap individu dituntut untuk sifat beradab memanfaatkan potensi yang ia miliki untuk menciptakan hal yang bermanfaat bagi lingkungan atau masyarakat di sekitar khususnya dalam bidang perekonomian. Asumsi dari perekonomian adalah cateris paribus, bagaimana faktor-faktor tertentu dianggap tetap sehingga tujuan akhir dapat berjalan sesuai dengan harapan.
    
II. Peranan MP3EI
Pada abad ke-21 tantangan global menuntut setiap bangsa mampu mencetak individu yang berkualitas, individu yang mampu menciptakan peluang kesejahteraan dan membantu meningkatkan perekonomian Bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia harus mengubah tantangan tersebut menjadi peluang, melalui perumusan dan penetuan strategi pembangunan nasional yang dipergunakan sebagai alat strategis untuk meningkatkan kualitas perekonomian, pemerintah harus menetukan arah pembangunan nasional yang tepat sesuai dengan kondisi politik, sosial, ekonomi,dan budaya bangsa serta harus berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Ide munculnya penetapan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menjadi arah pembangunan ekonomi Indonesia dari tahun 2011 hingga tahun 2025, langkah strategis yang diambil pemerintah Indonesia ini diharapkan dapat berjalan sesuai yang telah direncanakan, optimisme Pemerintah Indonesia dengan menggunakan staretgi tersebut perekonomian bisa lebih kuat dan dapat membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
Masterplan ini memiliki dua kata kunci, yaitu percepatan dan perluasan. Dengan adanya masterplan ini, diharapkan Indonesia mampu mempercepat pengembangan berbagai program pembangunan yang ada, terutama dalam mendorong peningkatan nilai tambah sektor-sektor  unggulan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan energi, serta pembangunan SDM dan Iptek. Percepatan pembangunan ini diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya. Selain percepatan, pemerintah juga mendorong perluasan pembangunan ekonomi Indonesia  agar efek positif dari pembangunan ekonomi Indonesia dapat dirasakan tidak saja di semua daerah di Indonesia tetapi juga oleh seluruh komponen masyarakat di seluruh wilayah nusantara.[1]
Program MP3EI memberikan kesempatan kepada perekonomian nasional, sehingga harus mendapatkan apresiasi khusus karena mampu meberikan perubahan yang signifikan atas perekonomian Bangsa Indonesia. Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera, wilayah kepulauan Indonesia memiliki sebuah konstelasi yang unik, dan tiap kepulauan besarnya memiliki peran strategis masing-masing yang ke depannya akan menjadi pilar utama untuk mencapai visi Indonesia tahun 2025. Dengan memperhitungkan berbagai potensi dan peran strategis masing-masing pulau besar telah ditetapkan 6 (enam) koridor ekonomi.
Tema pembangunan masing-masing koridor ekonomi dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:
1.      Koridor Ekonomi Sumateramemiliki tema pembangunan sebagai “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional”;
2.      Koridor Ekonomi Jawamemiliki tema pembangunan sebagai “Pendorong Industri dan Jasa Nasional”;
3.      Koridor Ekonomi Kalimantanmemiliki tema pembangunan sebagai “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional”;
4.      Koridor Ekonomi Sulawesimemiliki tema pembangunan sebagai ‘’ Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional;
5.      -  Koridor Ekonomi Bali – Nusa Tenggaramemiliki tema pembangunan sebagai ‘’Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional’’;
6.      -  Koridor Ekonomi Papua – Kepulauan Malukumemiliki tema pembangunan sebagai “Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional”.[2].


[1] Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, diakses dari: http://www.depkeu.go.id/ind/others/bakohumas/bakohumaskemenko/MP3EI_revisi-complete_(20mei11).pdf, pada tanggal 11 September 2013, pukul 17.30
[2] Diakses dari : http://kp3ei.go.id/in/main_ind/content1/114

Senin, 02 September 2013

Ilmu Ekonomi ( IE ) FEB UGM

Banyak orang yang bertanya apa itu Ilmu Ekonomi (IE) ? apa kelebihan yang dimiliki dibandingkan dengan jurusan manejemen dan akuntansi ? apa yang akan dipelajari di IE ? lalu Bagaimana prospek pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lulusan Jurusan IE ? melalui tulisan ini penulis akan menjabarkan sedikit informasi mengenai program studi ini, sehingga dapat menjadi refrensi kepada calon mahasiswa agar tidak salah ambil jurusan.



Jurusan Ilmu Ekonomi (Economics Department) adalah satu dari 3 jurusan yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Ilmu ekonomi mempelajari bagaimana masyarakat mengambil keputusan dalam mengalokasilkan sumberdayanya yang terbatas. Mahasiswa akan diberikan wawasan mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan sosial dan ekonomi di negara berkembang, yang akan mengembangkan mahasiswanya menjadi seorang pengambil keputusan yang lebih baik baik di dunia bisnis maupun untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Jika anda berhasil menyelesaikan pendidikan di program studi ini maka kompetensi utama yang akan anda miliki diantaranya adalah:
1.      Kondisi untuk tercapainya efisiensi dalam alokasi sumber daya.
2.      Teori pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, distribusi pendapatan dan perdagangan internasional.
3.      Beberapa bidang khusus ilmu ekonomi, seperti ekonomika pembangunan, moneter, internasional, sumber daya alam, sumber daya manusia, sektor publik, pertanian.
4.      Karakteristik institusi di Indonesia dan negara berkembang pada umumnya yang berbeda dengan negara maju.
5.      Adanya keterkaitan yang erat antara keberhasilan ekonomi dengan konstelasi politik, hukum dan sosial.
6.      Menggunakan berbagai metode kuantitatif dalam analisis ekonomi (statistika, ekonometrika, dsb).

Skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa lulusan IE FEB :
1.      Lulusan memiliki kemampuan dan keahlian untuk:
2.      Menerapkan alat-alat dalam teori ekonomi mikro dan makro untuk memecahkan permasalahan ekonomi.
3.      Mengikuti perdebatan-perdebatan dalam teori ekonomi, untuk membedakan antara alasan yang sound dan yang fallacious, dan memahami bagaimana perbedaan-perbedaan dalam economic prescriptions mungkin timbul.
4.      Mengkomunikasikan alasan-alasan ekonomi ke dalam tulisan dan lisan dan mengerti tulisan dan pendapat sejenis yang dilakukan oleh orang lain.
5.      Memiliki kemampuan khusus dalam ekonomika pembangunan, ekonomika bisnis, ekonomika moneter, ekonomika publik, atau ekonomika internasional.

Selain skill dan kemampuan dalam pemahaman materi mahasiswa lulusan harus memeliki beberapa sikap yang diperlukan untuk menunjang jenjang karir mereka, antara lain :
1.      Menghargai kemajemukan pandangan yang mungkin muncul mengenai permasalahan-permasalahan ekonomi.
2.      Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat yang berdasar atas pengetahuan dan inisiatif.
3.      Tekun dalam bekerja dan ulet dalam menghadapi masalah.

Apa yang berbeda dengan Jurusan Akuntansi atau Manajemen? Kedua jurusan ini jelas tidak mempelajari tentang isu-isu ekonomi negara. Dan yang lebih penting lagi, kedua jurusan ini tidak mempelajari tentang efisiensi alokasi sumberdaya masyarakat secara keseluruhan. Yang dipelajari lebih pada keputusan yang dibuat oleh individu perusahaan dan efeknya pada (profitabilitas) perusahaan. Apakah keputusan perusahaan ini memiliki dampak pada kesejahteraan masyarakat atau tidak dievaluasi oleh Jurusan Akuntansi dan Manajemen. Karena jurusan ilmu ekonomi mengajarkan analisis makro, maka kemampuan abstrak logis sangat menentukan. Ilmu ekonomi tidak sepraktis ilmu yang dipelajari di Jurusan Akuntansi dan Manajemen.
Untuk berkuliah di IE UGM, teman-teman cukup menyelesaikan 104 SKS wajib dan 42 SKS pilihan. Dengan SKS sejumlah itu, kalian akan mempelajari ilmu ekonomi dan analisis ekonomi yang relevan dalam pengambilan keputusan di negara sedang berkembang. Tujuannya, agar lulusan IESP menguasai ilmu ekonomi modern dan mampu mengaplikasikannya pada perekonomian Indonesia dan dunia internasional.
Secara khusus, beberapa minat studi pilihan ditawarkan kepada mahasiswa, yaitu Ekonomika Publik, Ekonomika Moneter, Ekonomika Internasional, Ekonomika Pembangunan, serta pengembangan minat studi yang relatif baru, yaitu Ekonomika Bisnis. Pasti bayangan kalian masih gelap tentang nama-nama bidang itu. Wajar saja, karena kalian belum pernah mempelajarinya secara mendalam di sekolah. Namun ada sedikit gambaran sekilas tentangnya. Yang pertama, Ekonomika Publik (EP) merupakan ilmu yang membicarakan fungsi pemerintah secara mikro dalam sistem perekonomian yang tercermin dalam kebijaksanaan APBN. Lalu Ekonomika Moneter (EM) mempelajari tentang sifat, fungsi, serta pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi. Selanjutnya, Ekonomika Internasional (EI) ialah bidang yang membicarakan tentang pasar internasional melalui perdagangan barang dan jasa antarnegara, serta aliran modal internasional. Keempat yaitu Ekonomika Pembangunan (EPE), mengulas perkembangan negara-negara baru pasca-Perang Dunia II, sehingga analisis jitu atas kondisi ekonomi negara-negara tersebut dibandingkan dengan negara-negara maju dapat dilakukan. Terakhir, Ekonomika Bisnis (EB) adalah bidang yang berfokus pada hakikat bisnis publik maupun swasta dan kebijakan untuk mendorong proses pembangunan.
 
Core and Field
Untuk urusan staff pengajar atau dosen, tidak perlu diragukan lagi, jurusan ini didukung oleh tenaga-tenaga pengajar profesional. Sekilas tentang mereka mungkin bisa dijadikan gambaran. Jurusan IE FEB UGM memiliki 54 staf pengajar. Mayoritas dosen telah menempuh pendidikan pasca sarjananya di luar negeri (termasuk memperoleh beasiswa sekolah S3), seperti University of Philippines, University of Colorado, University of Pennsylvania, dan Melbourne University. Rincian persentasenya ialah lulusan S3 sebesar 48,15%, S2 sebesar 40,7%.
Jadi, karir apa yang cocok untuk alumni Jurusan Ilmu Ekonomi? Karena kita mempelajari pemikiran dasar dalam ilmu ekonomi dan analisis, maka profesi yang terkait dengan analisis ekonomi secara umum adalah yang paling tepat, lulusan program studi Ilmu Ekonomi FEB UGM memiliki prospek kerja di berbagai instansi pemerintahan dan lembaga negara (BPK, Bappenas), Bank Indonesia, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, sebagai perencana pertama, asisten peneliti, asisten analis kebijakan, ekonom pendidik (mengajar ilmu ekonomi sebagai guru atau asisten dosen), analis data, analis pasar, analis bisnis dan keuangan, pengusaha, serta profesi lain yang relevan dengan bidang pengetahuan dan keahlian ilmu ekonomi seperti ekonomi syariah, ekonomi lingkungan, ekonomi kesehatan, dan ekonomi kependudukan. Dengan demikian sumber daya insani tersebut mampu bekerja di organisasi publik, swasta, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta memiliki kemampuan untuk melanjutkan studi Ilmu Ekonomi dan/atau lainnya ke strata yang lebih tinggi. Lulusan prodi ini juga dapat bekerja di sektor swasta dan BUMN, terutama perbankan dan sektor keuangan lainnya.

“ Seiring dengan perkembangan zaman yang kian pesat dan tak terduga, hampir setiap institusi membutuhkan tenaga researh and development. Jurusan Ilmu Ekonomi (IE) UGM menyiapkan tenaga-tenaga handal tersebut. ”