Kamis, 30 Juni 2011

Asal – Usul Suku Tengger


Asal – Usul Suku Tengger
( Cerita Rakyat dari Probolinggo )
Oleh : Risanda Alirastra B
XI – IS 3 / 09 5776


  Suku tengger ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang memeliki alam yang begitu mempesona. Orang-orang suku tengger sangat taat dengan aturan dan agama hindu. Mereka yakin bahwa mereka adalah keturunan dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putera Brahmana) yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger".
 
Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan
          
          Suku tengger terkenal dengan kekayaan tradisi dan ritual upacara keagamaannya. Agama mayoritas warganya memang Hindu. Namun seiring perkembangan zaman, agama di sana juga semakin beragam dengan masuknya Islam dan Kristen. Dengan sejarah pertemuan agama-agama di sana, serta tingginya gelombang pengaruh dari luar Tengger melalui pariwisata serta teknologi informasi dan komunikasi, Suku Tengger tidak kehilangan identitasnya. Suku ini tetap menjunjung tinggi toleransi dan menganggap perbedaan itu suatu keniscayaan.

Masyarakat suku tengger ini di pimpin oleh seorang kepala Desa (petinggi), yang sekaligus menjabat sebagai kepala adat. Di suku Tengger juga dikenal dukun adat yang diposisikan sebagai pemimpin ritual/upacara adat. Pemilihan kepala suku ini langsung dipilih oleh masyarakat sedangakan dukun adat dilakukan secara bertahap yang menyangkut diri pribadi calon dukun, yang akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen (Ujian pengucapan mantra yang tidak boleh putus ataupun lupa) yang dilaksanakan pada saat upacara kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.   

Sejak zaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi-abdi Kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama Hindu, setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo. Dan setelah itu dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama di bulan Kasodo menurut penanggalan jawa.Upacara Kasada dilaksanakan di Pura Luhur Poten Gunung bromo, tidak seperti masyarakat hindu pd umunya yang memiliki candi, candi tersebut di gunakan untuk tempat beribadah. Namun Poten disin adalah sebidang tanah dilahan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada.

Upacara Kasada
Asal-usul upacara Kasada terjadi beberapa tahun yang lalu , Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit, permaisuri dikaruniai anak perempuan yang bernama Roro Anteng. Setelah beranjak dewasa sang Putri jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari Kasta Brahmana yang bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dan semakin berkibarnya perkembangan Islam di Pulau Jawa. Beberapa orang kepercayaan kerajaan dan sebagian keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar ke kawasan pegunungan tengger, termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah mereka menjadi penguasa diwilayah ini, mereka sangat sedih karena belum dikaruniai seorang anak. Berbagai macam cara mereka coba, sampai pada akhirnya mereka kepuncak Gunung Bromo untuk bersemedi. Akhirnya permintaan mereka dikabulkan dengan munculnya suara gaib, dengan syarat anak bungsu mereka setelah lahir harus dikorbankan kekawah gunung bromo. Setelah mereka dikaruniai 25 orang anak, tiba saatnya mereka harus mengorbankan si bungsu. Tetapi mereka tidak tega melakukannya, karena hati nurani orang tua yang tidak tega membunuh anaknya. Akhirnya sang dewa marah dan menjilat anak bungsu tersebut masuk kekawah gunung, timbul suara dari si bungsu agar orang tua mereka hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Dan tiap tahun untuk melakukan sesaji yang dibuang ke gunung bromo. Sampai sekarang adat istiadat ini dilakukan secara turun menurun.selain itu

Selain itu Upacara Kasada juga dilakukan untuk mengangkat seorang dukun adat di setiap desa. Beberapa hari sebelum Upacara Kasada dimulai mereka mengerjakan sesaji-sesaji yang nantinya akan dilempar ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 Bulan Kasada masyarakat tengger berbondong-bondong dengan membawa ongkrek yang berisi sesaji dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu, merka membawanya ke Pura dan smbil menunggu dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali mengahafalkan mantra, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo.    
Menuju ke kawah Gunung Bromo
 
Setelah upacara adat selesai, ongkek-ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki bromo keatas kawah, dan mereka lemparkan ke dalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.Penduduk yang melemparkan sesaji berbagai macam hasil pertanian, perkebunan dan peternakan mereka anggap sebagai Kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan yang telah memberikan mereka hasil yang melimpah ruah 


Nilai Moral : 

Di dalam suku tengger ini kita bisa mengambil sebuah hikmah, suatu kepercayaan yang kita anggap baik maka perlu kita lestarikan secara turun-temurun namun jika kita anggap tidak baik maka jangan dilanjutkan menjadi sebuah kebiasaan . 









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar